Joon menemui Ha-na di jembatan resort. Dia menanyai Ha-na apa tidak ada
yang ingin Ha-na katakan padanya. Ha-na terdiam sejenak lalu berkata,
“Aku ingin bersamamu..” Joon tersenyum lalu mendatangi Ha-na dan
memeluknya. Ha-na balas memeluknya.
Hye-jung melewati bawah jembatan dan melihat mereka, namun Hye-jung
tidak tahu yang dilihatnya adalah Joon dan Ha-na. Hye-jung berjalan
terus.
Joon berlari-lari menarik Ha-na. Tepat saat Hye-jung menoleh lagi, tubuh Joon dan Ha-na tertutup pohon.
Joon menyetir mobil. Satu tangannya menggenggam tangan Ha-na. Mereka
saling tersenyum lebar, mengekspresikan kelegaan dan kebahagiaan mereka.
Yoon-hee dan In-ha duduk berhadapan di depan rumah Yoon-hee dan
berbicara. In-ha bertanya apa Yoon-hee sudah memberi tahu Joon dan Ha-na
soal pembatalan pernikahan mereka. In-ha meminta maaf karena dia
memberikan pekerjaan sulit itu pada Yoon-hee. “Kau baik-baik saja kan?”
tanya In-ha.
Yoon-hee hanya tersenyum kecil dan menundukkan kepalanya.
“Apa-apaan ini?” Hye-jung tiba-tiba muncul. (perusak suasana saja, persis Mi-ho...)
“Kenapa kalian bersama? Bukankah kau bilang kau ada seminar?” cecar Hye-jung.
In-ha tidak menjawab dan bertanya apa yang Hye-jung lakukan di resort.
Hye-jung merasa kesal karena In-ha bersikap melindungi Yoon-hee. “Tidak
perlu melindunginya. Aku datang bukan untuk menyiramkan air ke
wajahnya,” kata Hye-jung sinis. “Aku perlu bicara denganmu,” katanya
pada Yoon-hee.
Hye-jung kemudian duduk di samping In-ha.
“Sepertinya kalian baik-baik saja. Aku kira kalian berpisah. Kalau
kalian mudah mengakhiri hubungan kalian, kenapa kalian membuat hidupku
serasa di neraka selama 30 tahun? Jadi, apa betul kalian membatalkan
pernikahan kalian?” tanya Hye-jung.
“Apa kau datang kemari hanya untuk bertanya hal itu?” tanya Yoon-hee.
“Ya, aku akan tertawa di depanmu kalau kabar itu benar.”
“Hye-jung, sudah cukup.” In-ha tidak tahan lagi.
“Ya, itu benar. In-ha dan aku akan berteman mulai sekarang,” jawab Yoon-hee.
“Teman? Hebat sekali. Apa alasan kalian berpisah dan ingin tetap menjadi teman?”
In-ha menundukkan kepalanya. Dia baru akan menjawab saat Yoon-hee
berkata bahwa alasan perpisahannya dengan In-ha sama sekali bukan urusan
Hye-jung. (Skak!! Teruskan Ahjuma Yoon-hee!! Hehehe..)
“Aku tahu bahwa tidak ada apapun yang bisa membayar rasa sakit yang
selama ini kau alami. Tapi pernikahanku dengan In-ha sudah batal. Jadi
aku harap jangan menyulitkan In-ha lagi,” pinta Yoon-hee.
“Apa Joon sudah tahu?”
“Aku sudah memberitahu anak-anak.”
“Baguslah, jadi Joon tidak usah terlibat lagi dengan masalah kalian.”
“Joon tidak akan terlibat apa-apa lagi. Jadi mulai sekarang, tolong
jangan datang lagi kemari untuk membahas masalah hubunganku dengan In-ha
dan mengacaukan hidupku. Ketika kita bertemu lagi, aku harap kita bisa
bertemu sebagai teman.”
Hye-jung tidak berkata apa-apa lagi. Yoon-hee kemudian pamit masuk rumah karena masih ada pekerjaan yang harus dia lakukan.
Sepeninggal Yoon-hee, Hye-jung mengajak In-ha pergi karena ada yang mau dibicarakan dengan In-ha.
Hye-jung duduk di restoran dengan In-ha. Dia mengingat-ingat pembicaraannya dengan Mi-ho.
Mi-ho berbohong dengan berkata bahwa Joon menolak pernikahan In-ha
dengan Yoon-hee. Jadi Mi-ho penasaran apa Joon adalah alasan pernikahan
In-ha dengan Yoon-hee batal.
=Flashback End=
“Hye-jung,” panggil In-ha. “Apa yang mau kau bicarakan denganku?”
“Mi-ho berkata bahwa alasan kau membatalkan pernikahanmu berhubungan
dengan Joon. Apa maksudnya? Mi-ho tidak berkata apa-apa lagi setelah
itu. Apa yang sebenarnya Joon tentang dari pernikahanmu?” In-ha
mengalihkan pandangannya.
“Jadi sesuatu benar-benar terjadi. Kalau kau tidak memberitahuku, aku akan menanyakannya pada Joon.”
“Apa yang mau kau tanyakan pada Joon? Berhentilah mengganggu Joon juga.
Toh, dia tidak akan mendengarkanmu,” kata In-ha dengan nada keras.
Hye-jung tersenyum sinis. “Aku tidak pernah bisa memberitahumu untuk
melakukan apapun. Sekarang kau memberitahuku untuk tidak menyuruh Joon
melakukan sesuatu? Aku mungkin bukan apa-apa bagimu, tapi tidak dengan
Joon.”
“Aku tidak berkata bahwa kau tidak usah mencampuri urusan Joon sebagai
ibunya. Maksudku adalah sebaiknya kau menghargai apapun keputusan Joon.”
“Apapun yang kau katakan, Joon sangat berarti bagiku.”
“Tidak, dirimu adalah yang paling berarti bagimu. Bukan aku ataupun Joon,” bantah In-ha. (Setujuuu!!)
“Kau tidak bisa menjadi suamiku. Tapi Joon adalah anakku. Aku tidak bisa kehilangannya juga.”
“Jangan berpikir bahwa kau akan kehilangan Joon. Itu tidak baik.”
Hye-jung tertawa sinis. “Lihatlah cintamu sebagai ayah. Benarkah kau
membatalkan pernikahanmu karena Joon menolaknya? Jadi kau bersikap
sebagai ayah yang baik sekarang?”
“Sudah, cukup. Yang pasti sekarang aku tidak bisa menyetujui apapun
keputusanmu yang menyangkut Joon,” tegas In-ha. Dia kemudian berdiri dan
pergi.
Joon mengajak Ha-na ke sebuah rumah.
“Apa kau suka tempat ini?” tanya Joon. “Ini adalah tempat persembunyian kita mulai sekarang.”
Joon kemudian mendatangi Ha-na dan memeluknya dari belakang.
“Saat kita berdua di sini, hanya ada kita berdua. Kita akan menghadapi
kenyataan saat di luar, tapi di tempat ini kita hanya akan menjadi diri
kita. Kita hanya akan berbicara tentang kita.”
Joon meletakkan kepalanya di pundak Ha-na dan memejamkan mata. “Aku
merasa sangat nyaman bisa memelukmu seperti ini.” Ha-na melihat ke wajah
Joon dan tersenyum.
Ha-na dan Joon berjalan-jalan ke pasar dekat rumah.
Mereka tertawa-tawa dengan bahagia. Saat di stand makanan, Ha-na menyuapi Joon.
Penjual makanan bertanya apa mereka pasangan yang baru menikah.
“Kami bukan pasangan yang baru menikah,” jawab Ha-na dengan malu.
“Jadi, kalian kakak-adik?”
Ha-na terdiam. Joon melirik Ha-na. Dia lalu memeluk pundak Ha-na dan
berkata bahwa mereka pasangan yang baru menikah. “Apa kami cocok?”
tanyanya.
“Tentu saja! Kalian sangat cocok. Aku akan memberikan harga murah khusus
untuk kalian,” kata si penjual dengan bersemangat. Suasana Ha-na dan
Joon menjadi sedikit kaku.
Joon dan Ha-na berjalan pulang.
“Bagaimana bisa aku kelihatan seperti sudah menikah?” omel Ha-na.
“Kau tidak mau kelihatan seperti istriku?” goda Joon.
“Bagaimana bisa kita menikah?” bantah Ha-na.
“Jadi kau hanya akan menjadi kekasihku selamanya?” Ha-na terdiam.
Joon memegang pundak Ha-na dan memutarnya sehingga mereka berhadapan.
“Lihat ke aku. Hitunglah sampai tiga. Dan mulai hitungan ketiga kau
hanya akan memikirkan tempat ini, saat ini, dan hanya tentang kita
berdua. Satu, dua, tiga...” Joon menjentikkan jarinya. Ha-na tersenyum,
Joon balas tersenyum.
Joon sedang memasak sambil mengomel karena Ha-na minta ada nasi, sup, dan daging saat liburan seperti sekarang.
“Nasi, sup, dan daging adalah hal wajar selama liburan,” kata Ha-na.
“Aku suka hal yang tidak wajar,” bantah Joon.
Ha-na sedang membaca brosur pariwisata di daerah sana. Dia kemudian
mengajak Joon melihat bintang di observatorium dekat sana, namun Joon
menolak karena dia ingin menghabiskan waktunya bersama Ha-na. Ha-na
tersenyum.
Dia kemudian melanjutkan membaca brosur dan tiba-tiba tersenyum kecil. Ha-na memanggil Joon dan menyuruhnya membaca brosur itu.
“Kabut di pagi hari di dekat sungai sangat terkenal. Ada sebuah legenda
yang mengatakan bila kau melihat kabut itu bersama-sama, kalian akan
saling jatuh cinta,” baca Joon keras-keras. Joon berpikir setelah
membacanya.
“Terdengar familiar?” tanya Ha-na.
“Diamond Snow...” Joon teringat. “Kita melihat Diamond Snow bersama-sama. Jadi segalanya akan beres kan?” Ha-na hanya tersenyum.
Joon kemudian sadar bahwa Ha-na tidak memakai lagi kalung pemberiannya. “Apa yang kau lakukan dengan kalung dariku?”
“Aku membuangnya,” jawab Ha-na.
“Apa?”
“Kau juga membuang cincin pemberianku.”
Joon mendecakkan lidah kemudian mengeluarkan kalung panjang yang tersembunyi di dalam bajunya. “Taadaa...”
Ternyata cincin pemberian Ha-na dipasangkan di kalung.
Ha-na merasa takjub sekaligus senang karena ternyata Joon tidak membuang
cincin pemberiannya. Joon kemudian melepaskan cincin dan meletakkanya
di tangan Ha-na. “Kau tidak membuangnya?” tanya Ha-na.
“Kau kira aku akan membuangnya? Alasanku mengembalikan cincin ini
kepadamu adalah agar kau bisa memberikannya lagi kepadaku saat kau sudah
bisa mengambil keputusan. Karena aku sudah mengambil keputusan.” Joon
lalu tersenyum kecil dan berdiri karena sup sudah matang.
Ha-na terus memandangi cincin di tangannya dengan perasaan senang.
Yoon-hee baru saja selesai rapat dengan teman kerjanya. Dia bertanya apa Ha-na ada di greenhouse.
“Tidak, dia tidak ada di greenhouse,” jawab teman kerja Yoon-hee.
“Dia bilang dia akan berada di greenhouse sampai malam,” kata Yoon-hee.
Teman kerja Yoon-hee kemudian melapor bahwa tadi siang ada pria yang
mencari Ha-na dan pria itu bukan Tae-seong. Ha-na pergi dengan naik
mobil pria itu. “Kelihatannya itu pacar Ha-na.”
Yoon-hee merasa khawatir.
Ha-na sedang makan bersama Joon. mereka bercanda dengan gembira.
Tiba-tiba ponsel Ha-na bergetar. Yoon-hee meneleponnya. Ha-na ragu akan mengangkatnya atau tidak.
“Angkatlah,” kata Joon.
Ha-na kemudian berdiri dan berjalan keluar. Joon merasa bahwa yang menelepon Ha-na adalah Yoon-hee.
Yoon-hee bertanya Ha-na di mana. Ha-na merasa bingung kemudian berbohong
bahwa dia di sekolah karena ada spesimen yang mendadak harus dia amati.
Dia akan pulang terlambat.
Yoon-hee bisa merasakan bahwa Ha-na berbohong, namun dia tidak berkata apa-apa.
Ha-na menutup telepon dan merasa bersalah. Di dalam Joon memandang Ha-na dengan khawatir. Ha-na tersenyum menenangkan.
Tae-seong berkunjung ke rumah Ha-na. Dia bertanya ke Yoon-hee Ha-na di
mana karena dia dengar Ha-na tidak ke greenhouse hari ini.
Yoon-hee berpikir sejenak kemudian mengajak Tae-seong masuk karena ada yang ingin dibicarakannya.
Yoon-hee bertanya apa Tae-seong mendengar bahwa hari ini ada seorang
pria yang mencari Ha-na. Yoon-hee kemudian bercerita bahwa Ha-na punya
seseorang yang disukainya.
Tae-seong akhirnya mengaku bahwa dia mengetahui soal hubungan Ha-na dan
bahwa Ha-na dan pacarnya putus beberapa waktu lalu. “Aku ingin Anda
menghentikan hubungan mereka. Pria itu tidak cocok untuk Ha-na.”
“Siapa kekasih Ha-na?” tanya Yoon-hee dengan pelan. Dia masih merasa kaget atas penilaian Tae-seong terhadap pacar Ha-na.
Tae-seong menundukkan kepalanya, bingung akan menjawab apa.
Ha-na dan Joon duduk di ayunan berdua. Ha-na bertanya apa yang akan
mereka lakukan sekarang dan apa Yoon-hee dan In-ha tidak bisa kembali
bersama.
“Setelah kita menyerah?” tanya Joon.
Ha-na tidak menjawab apa-apa. Tiba-tiba hujan turun. Ha-na mengajak Joon masuk kalau dia tidak mau basah.
Joon berdiri dan berkata bahwa dia lebih baik kehujanan. Dia kemudian
merasakan tetesan hujan mengenai tubuhnya. Ha-na menemani Joon.
Joon dan Ha-na saling berpandangan tanpa berkata apapun.
Yoon-hee masuk ke kamar Ha-na. Dia memandangi foto-foto di pigura di
meja Ha-na sambil tersenyum. Yoon-hee melihat kamera Ha-na dan
mengambilnya. Dia menyalakan kamera itu dan membuka-buka foto di
dalamnya.
Yoon-hee menemukan foto Ha-na dan Joon saat berada di kamar Ha-na. Yoon-hee teringat apa yang terjadi selama ini.
=Flashback=
“Anda tidak tahu apa yang sudah kami (Joon dan Ha-na) lalui,” kata Joon saat makan di restoran.
Joon mengajak Ha-na menemui Yoon-hee, In-ha, dan Hye-jung saat fashion show di resort.
“Tidak bisakah aku memperhatikanmu? Kita akan segera menjadi keluarga,” kata Joon saat pesta ulang tahun In-ha.
“Bukan kakak-adik,” kata Ha-na.
“Jadi, kita bisa menjadi keluarga, tapi bukan kakak-adik?”
“Aku tidak bisa membiarkan Joon jatuh,” kata In-ha saat dia membatalkan pernikahannya dengan Yoon-hee.
=Flashback end=
Yoon-hee sangat terkejut saat akhirnya dia menyadari perkataan Ha-na, Joon, dan In-ha selama ini. Dia jatuh terduduk.
“Ya Tuhan.. Ya Tuhan.. In-ha.. Anak-anak.. Putriku..” Yoon-hee menangis.
Ha-na tertidur dengan kepala di pangkuan Joon. Joon terus berpikir dan
tidak bisa tidur. Dia mengusap-usap kepala Ha-na, lalu memejamkan mata
dengan sedih.
Yoon-hee masih merasa shock. Segala kejadian berputar di ingatannya.
=Flashback=
“Tidak ada yang akan terjadi. Tidak ada,” kata In-ha pada malam dia memberikan lukisan masa muda Yoon-hee.
Seusai pesta ulang tahun, In-ha terlihat bingung dan berjalan mondar-mandir.
Tangisan In-ha saat dia membatalkan pernikahan mereka.
“Maaf, Bu.. Aku ingin mengubah segalanya seandainya aku bisa. Tapi...,”
kata Ha-na sambil menangis, setelah dia memberitahu pernikahannya dengan
In-ha batal.
=Flashback End=
Yoon-hee terus meneteskan air mata.
Ha-na terbangun tapi Joon sudah keluar rumah.
Ha-na mencari Joon. Dia menghampiri Joon yang sedang berdiri di jembatan sungai dikelilingi oleh kabut sehabis hujan.
“Ini kali kedua kita melihat sesuatu bersama, setelah Diamond Snow. Apa
kau tahu alasanku melihat kabut sendirian? Aku ingin mengecek apa kabut
sudah ada atau belum terlebih dahulu. Kalau ada, aku akan berpura-pura
tertidur,” kata Joon kemudian tersenyum jahil. Ekspresi Joon kemudian
menjadi serius. “Aku tidak percaya pada takdir. Entah Diamond Snow atau
kabut sesudah hujan, alasan kita melihatnya bersama-sam adalah karena
kita sedang bersama. Aku ingin melihat banyak hal bersamamu. Bukan
karena takdir, tapi karena kita sedang bersama. Tetaplah bersamaku. Kita
akan melihat apa yang akan terjadi di masa depan, bersama-sama.”
Ha-na menahan tangisnya. Dia kemudian mengambil cincin di kantong
bajunya dan memasangkan cincin itu di jari Joon. “Aku akan memilihmu.
Kau adalah pertama bagiku dalam segala hal. Aku kan berada di sisimu.”
Mata Joon berkaca-kaca. Dia menghampiri Ha-na dan memeluknya. Mereka berpelukan selama beberapa waktu.
Yoon-hee sedang berdiri di luar sambil berpikir. Dia melihat mobil Joon masuk ke resort. Ha-na dan Joon turun dari mobil.
Yoon-hee melihat kemesraan Joon dan Ha-na. Dia menghembuskan nafas lalu berjalan masuk.
Joon mengusap-usap kepala Ha-na dan menyuruhnya masuk.
“Dah,” kata Ha-na kemudian berjalan menuju rumah.
Joon tersenyum sepeninggal Ha-na.
Ha-na masuk ke rumah dan mencari ibunya.
Tidak berapa lama, Yoon-hee masuk ke rumah dan bersikap seakan tidak ada apa-apa. Dia kemudian mengajak Ha-na sarapan.
Dia tersenyum kecil saat Ha-na menoleh karena merasa dipandangi oleh Yoon-hee terus.
Jeong-sul baru saja bangun dan meregangkan tubuhnya di luar saat Hye-jung datang ke cafe.
Jeong-sul langsung menghampiri Hye-jung dan mengingatkan siapa dia ke Hye-jung.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Hye-jung.
“Joon sangat mencintaiku, jadi aku bekerja di sini sebagai tukang kebun,” jawab Jeong-sul sambil tersenyum manis.
“Tukang kebun? Aku pikir ada tukang kebun lain di sini.”
“Oh? Ha-na maksud Anda?”
“Ha-na?”
Di saat bersamaan, Sun-ho datang dan menyapa Hye-jung. “Kenapa Anda kemari?”
Hye-jung menjawab bahwa dia mencari Joon karena semalam Joon tidak
pulang ke rumah. Dia mengira Joon tidur di cafe, tapi ternyata dia tidak
ada.
Hye-jung kemudian memancing informasi dari Sun-ho. Dia bertanya apa Joon masih berhubungan dengan si tukang kebun.
Sun-ho menutup-nutupi dan berkata bahwa Mi-ho salah tangkap dengan hubungan antara Joon dengan tukang kebun yang dulu.
Joon sampai di cafe. Hye-jung memandangi Joon dari atas sampai bawah.
Joon membawakan teh untuk Hye-jung. Dia kemudian duduk di depan Hye-jung.
Hye-jung berkata bahwa dia membawakan baju untuk Joon. Dia bertanya di
mana Joon tidur semalam. Hye-jung mengira Joon masih suka bermain-main.
Hye-jung kemudian bertanya mengapa tukang kebun yang dulu keluar dan
apakah Joon alasan dia keluar?
“Apa maksud Ibu?”
“Aku ingin menemuinya.”
“Tidak usah. Ini tidak ada hubungannya dengan Ibu. Apa alasan sebenarnya Ibu ke sini?”
“Kenapa kau tidak memberitahuku bahwa pernikahan ayahmu dibatalkan?”
Joon mengalihkan pandangannya.
“Aku dengar kau penyebabnya. Apa maksud kabar itu? Rasanya aneh bila dia
membatalkan pernikahannya karena kau atau aku. Aku tidak mengerti. Apa
yang sebenarnya terjadi?” Joon tidak langsung menjawab.
Yoon-hee memandangi Ha-na dengan lembut.
“Aku minta maaf,” kata Ha-na sambil menundukkan kepalanya.
“Terima kasih karena kau sudah jujur. Aku ingin bertemu dengannya suatu hari nanti,” kata Yoon-hee.
“Kalau kami sudah siap, aku akan mempertemukan Ibu dengan dia. Bagaimana
wajahnya dan sebagainya,” jawab Ha-na tanpa memandang Yoon-hee.
“Baiklah. Aku sudah tidak sabar bertemu dengannya.” Yoon-hee terdiam
sejenak. “Bolehkah aku meminta sesuatu? Aku tidak suka kata ‘maaf’. Aku
selalu menempatkan perasaan orang yang kucintai lebih dulu. Aku ingin
kau mencintai seseorang untuk dirimu sendiri. Itu yang aku minta
darimu.”
Mata Ha-na berkaca-kaca. Dia mengangguk-anggukkan kepalanya, namun tidak
berani memandang wajah Yoon-hee. Yoon-hee menatap Ha-na dengan lembut.
Ha-na menemui Tae-seong di kantornya karena dia mendengar bahwa Tae-seong mencarinya semalam.
“Apa kau bersama Seo Joon?” tanya Tae-seong.
Ha-na tidak menjawab. Dia justru meminta Tae-seong tidak usah merasa khawatir lagi karena dia sudah mengambil keputusan.
Tae-seong bertanya apa Ha-na sudah mempertimbangkan perasaan ibunya.
“Kau dan Joon belum lama berpacaran? Mengapa kalian merasa berat
berpisah?”
“Tidak penting apa yang sudah terjadi, karena sudah terjadi. Sekarang,
aku hanya bisa memikirkannya. Maaf, Sunbae... Aku rasa paling tidak aku
harus memberitahumu.”
Tae-seong memandangi Ha-na dengan sedih.
Di perjalanan keluar, Ha-na bertemu Hye-jung.
Ha-na membungkukkan badan, menyapa Hye-jung.
“Halo lagi.” Hye-jung melanjutkan berjalan sambil berkata sinis bahwa Ha-na sering sekali ke ruangan Tae-seong.
“Maaf,” panggil Ha-na. “Aku adik kelas Tae-seong. Aku bekerja di sini.”
Hye-jung menoleh sebentar lalu melanjutkan berjalan lagi.
Ha-na menahan sakit hati karena perkataan Hye-jung.
Tae-seong dan Hye-jung bertemu di kantor Tae-seong. Tae-seong meminta
maaf karena dia sudah memanggil Hye-jung jauh-jauh untuk menemuinya.
“Tidak apa-apa. Aku dengar kau menyukai gadis itu. Ternyata dia adik kelasmu?” tanya Hye-jung langsung.
“Ah.. Iya..”
Hye-jung mengangguk-anggukkan kepalanya. “Dia putri temanku. Dia bekerja di sini?”
“Dia gardener di bagian arboretum.”
“Gardener dalam arti tukang kebun?”
Tae-seong tidak langsung menjawab.
Joon ceria selama bekerja. Mi-ho memperhatikannya kemudian bertanya apa yang membuat Joon merasa senang.
“Apa maksudmu? Apa seseorang mengatakan sesuatu tentangku?” Joon melirik
ke Jo Soo dan piñata gaya. Jo Soo menggeleng, tapi si piñata gaya
menunjuk-nunjuk Jo Soo. Tatapan Mi-ho jatuh pada jari Joon. Dia melihat
cincin di jari manis Joon. “Apa itu? Itu cincin yang dulu kan?”
Joon memandang cincin di jarinya kemudian meminta maaf dengan enteng
karena dia tidak bisa menerima perasaan Mi-ho. Joon kemudian menyuruh
stafnya bersiap-siap untuk pemotretan selanjutnya. Dia kemudian berjalan
meninggalkan Mi-ho.
Mi-ho masih merasa kaget, dia tidak berbuat apa-apa.
Yoon-hee menemui In-ha di studionya yang berantakan. In-ha tidak
menyangka Yoon-hee datang dan langsung membereskan sampah dan
barang-barang lainnya.
Yoon-hee menyuruh In-ha keluar dan menghirup udara segar karena In-ha sudah berhari-hari bekerja di dalam ruangan.
In-ha tersenyum lalu berjalan-jalan di luar sementara Yoon-hee merapikan ruang kerja In-ha.
Yoon-hee melihat sebuah buku lalu membuka bagian yang diberi pembatas.
Dia lalu membaca satu kalimat yang diberi stabilo oleh In-ha. ‘Aku
percaya bahwa bila kita bertemu suatu kali, kita ditakdirkan untuk
bertemu lagi’
Yoon-hee teringat bahwa itu adalah buku berjudul The Prince yang disukai
oleh Yoon-hee dulu. Yoon-hee kemudian memandang ke kanvas kosong yang
sudah terpasang di kuda-kuda.
In-ha sudah kembali ke studionya. Dia ragu-ragu akan masuk sekarang atau tidak, tapi akhirnya memutuskan masuk.
Yoon-hee mengembalikan cincin pemberian In-ha saat In-ha melamarnya.
“Meskipun singkat, tapi aku merasa sangat nyaman. Aku merasa bahagia.”
In-ha meletakkan cincin yang semula dipegangnya ke atas meja. “Kita tidak bisa berteman?”
Yoon-hee menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku ingin.. tapi aku mengubah
pikiranku. Aku rasa lebih baik kita tidak berteman. Kenangan
membahagiakan yang terbaik adalah tetap membiarkannya menjadi kenangan
yang membahagiakan. Meskipun aku tidak bersamamu, sudah cukup bahwa aku
pernah mencintaimu sekali. Aku mencintaimu sejak pertama bertemu. Dan
itulah cara kita berpisah. Itulah caraku hidup selama 30 tahun ini. Aku
rasa bersama bukan berarti selalu tentang cinta. Tapi.. Putriku..
Sekalipun anak-anak nantinya bertengkar, aku ingin mereka tetap bersama.
Aku ingin mereka tetap bersama orang yang mereka cintai.”
“Kau sudah tahu?” tanya In-ha.
“Ya, aku tidak sengaja tahu. Juga, aku bisa mengerti dirimu. Terima
kasih karena kau sudah memutuskan untuk berpisah. Kau benar-benar..
orang yang dulu aku kenal. Aku akan terus mengingatmu seperti ini.”
Yoon-hee dan In-ha berpandangan dengan perasaan sedih.
Yoon-hee turun di halte bus. Dia lalu menyandarkan tubuhnya di tiang halte.
Ha-na melhat Yoon-hee dari jauh dan akan menyusulnya. Namun dia tidak
jadi menyusul karena Yoon-hee terlihat berpikir dengan wajah sedih.
Ha-na ikut merasa sedih karena dialah yang membuat In-ha dan Yoon-hee berpisah.
Jeong-sul mendengar tangisan Mi-ho dari ruang praktek Sun-ho. Dia lalu menghampiri.
Mi-ho merasa kesal karena Jeong-sul menemukan dia menangis. Dia lalu akan berjalan keluar, namun ditahan oleh Jeong-sul.
Jeong-sul bertanya ada apa, namun tidak dijawab oleh Mi-ho. Mi-ho lalu menepiskan tangan Jeong-sul.
Jeong-sul menahan Mi-ho lagi. “Aigoo.. Aku sudah tahu dari tangisanmu.
Kau ditolak?” tanya Jeong-sul. Jeong-sul tanpa perasaan justru bercerita
bahwa dia dulu punya tetangga persis sama dengan nasib Mi-ho.
Mengorbankan segalanya untuk pria yang dicintai. Ujung-ujungnya wanita
itu ditolak.
Mi-ho semakin kesal. “Siapa yang peduli dengan tetanggamu itu?”
Mi-ho akan pergi lagi, namun lagi-lagi ditahan oleh Jeong-sul. Jeong-sul menarik Mi-ho hingga jatuh terduduk di kursi.
“Tetaplah menangis,” kata Jeong-sul.
“Siapa yang menangis?” bantah Mi-ho dengan nada tinggi. Dia kemudian berdiri dan akan berjalan keluar untuk keempat kalinya.
“Apa kau akan keluar begitu saja?” tanya Jeong-sul.
Mi-ho berhenti dan menoleh. “Lalu?”
“Paling tidak, hapus maskaramu dulu.”
Mi-ho tersadar bahwa maskaranya belepotan. Dia duduk dengan kesal lalu mencari tisu di tasnya.
“Saat masih kecil, aku ingat bahwa Joon selalu bersikap menyebalkan.
Tapi sekarang, dia sudah berubah. Mungkin karena tukang kebun itu. Dia
tidak hanya menanam tanaman di taman, tapi juga menanam di tanah hati
Joon yang gersang. Kemudian dia menyiraminya.”
Mi-ho kesal sampai-sampai dia berhenti menghilangkan mascara di matanya.
Jeong-sul mendekati Mi-ho. “Aku sendiri seorang tukang kebun. Mungkin aku bisa menanam bunga di hati seseorang.”
“Apa?” tanya Mi-ho tidak mengerti.
“Seperti ini...” kata Jeong-sul lalu berusaha menyentuh pipi Mi-ho,
namun ditepis oleh Mi-ho. Jeong-sul masih berusaha memegang pipi Mi-ho.
Akhirnya Mi-ho kesal dan memukul wajah Jeong-sul dengan tasnya.
Mi-ho kemudian meninggalkan Jeong-sul yang justru tertawa setelah ditampar Mi-ho dengan tas untuk kedua kalinya.
Ha-na sedang berbicara melalui telepon dengan Joon. mereka berjanji akan bertemu besok.
Joon bertanya apa yang Ha-na inginkan. Setelah berpikir beberapa saat, Ha-na berkata bahwa dia ingin cokelat.
“Kenapa tiba-tiba ingin cokelat?” tanya Joon.
“Pekerjaanku menumpuk karena kemarin aku tinggal. Pekerjaanku termasuk
pekerjaan menggunakan fisik. Sebenarnya, aku sangat ingin soju,” goda
Ha-na.
“Apa?” tanya Joon kaget.
Ha-na tertawa kecil. “Cokelat. Belikan saja aku cokelat,” kata Ha-na.
Setelah menutup telepon, Joon menggeleng-gelengkan kepala karena Ha-na
hanya ingin cokelat. Dia duduk sebentar di ranjang kemudian berjalan
keluar kamar.
Ha-na benar-benar ingin cokelat. Dia lalu ke kamar dan mengambil jaket.
“Bu, aku akan keluar dan membeli cokelat. Apa kau titip sesuatu?”
“Tidak, pergilah,” jawab Yoon-hee dari kamarnya.
Joon turun dari mobil sambil membawa kantong belanjaan. Ponselnya berbunyi, ada telepon dari Ha-na.
Joon menggoda Ha-na bahwa dia keluar rumah karena Ha-na tidak bisa
keluar bersamanya. Joon kemudian bertanya apa Ha-na sedang di luar rumah
juga. Ha-na balas menggoda bahwa dia sedang keluar. Joon mulai cemburu,
tapi dia melihat Ha-na yang sedang berjalan sendirian. “Siapa bilang
aku tidak bisa membayangkan kau sedang bersama siapa?”
Ha-na lalu melihat Joon yang mengacungkan kantong belanjaan yang dibawanya.
“Apa itu?” tanya Ha-na sambil tersenyum.
“Cokelat.”
Ha-na mendatangi Joon dan memeluknya dengan senang.
“Apa kau begitu senang dengan cokelat?” tanya Joon sambil tersenyum lebar.
Ha-na mengangguk-anggukkan kepalanya sambil memeluk Joon.
Ha-na dan Joon duduk-duduk sambil menikmati cokelat dan soju yang dibawa Joon.
“Kau keluar karena kau merindukanku kan? Apa sebegitu kangennya kau padaku?” goda Joon.
“Tidak sebesar orang yang sampai datang jauh-jauh kemari. Apa kau sangat merindukanku?” balas Ha-na.
Joon tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya. “Ya, aku merindukanmu.”
Ha-na merasa senang dengan jawaban Joon.
“Jadi aku datang kemari, bahkan saat aku tahu ibumu ada di rumah.”
“Tak apa-apa. Apa kau sudah menghubungi ayahmu?” tanya Ha-na.
“Tidak,” jawab Joon sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak semua
hubungan keluarga hangat. Kau bisa terluka lebih dalam karena
orang-orang yang dekat denganmu.”
“Kau masih membencinya?”
Joon menggelengkan kepalanya. “Aku bicara tentang diriku. Seharusnya aku
menemuinya dan berterima kasih padanya. Dan aku juga seharusnya meminta
maaf. Tapi aku tidak bisa melakukannya. Aku berusaha untuk tidak
memahami ayahku. Tapi aku tetap melihat dia di dalam diriku setelah kita
bertemu.”
“Sama denganku. Aku tahu hati Ibu terluka. Tapi aku bahagia karena sudah bertemu denganmu.”
Joon memandang Ha-na kemudian memegang tangan Ha-na. “Tetaplah bersama-sama. Mulai sekarang, selamanya.”
Mereka saling tersenyum.
Ha-na menunggu In-ha di kampus.
“Ha-na-ya,” panggil In-ha sambil tersenyum.
Ha-na memberi salam ke In-ha.
Ha-na dan In-ha duduk di taman kampus. Ha-na membawakan bunga untuk
In-ha. Dia mengajari In-ha agar menyirami tanaman itu seminggu sekali.
“Tanaman ini suka cahaya. Jadi letakkan di dekat jendela. Tidak terlalu
sulit kan?” tanya Ha-na.
“Tidak. Aku suka tanaman ini.”
Ha-na menundukkan kepalanya dan berkata, “Aku seharusnya mengunjungi
Anda lebih awal. Aku minta maaf. Juga... terima kasih karena sudah
mempertimbangkan perasaan kami. Terima kasih karena Anda sudah
memperhatikan Joon dan aku. Aku rasa Joon tidak mampu menemui Anda. Jadi
aku yang datang kemari.”
“Aku tahu bagaimana perasaannya,” kata In-ha dengan lembut.
“Dia ingin mengatakan terima kasih dan juga minta maaf. Tapi aku rasa dia punya banyak hal yang dia pikirkan di kepalanya.”
In-ha meletakkan bunga pemberian Ha-na di sampingnya. “Aku tahu. Tidak
usah khawatir. Aku seharusnya yang berterima kasih. Terima kasih karena
sudah memperhatikan putraku. Setelah aku pikir-pikir, hal ini tidak
terlalu buruk. Aku merasa senang karena kau adalah pasangan Joon,” kata
In-ha sambil tersenyum.
Ha-na tersenyum kecil juga.
Ha-na sudah sampai di cafe. Dia menelepon Joon namun ternyata Joon
sedang ada urusan dan akan makan waktu beberapa lama. Joon menyuruh
Ha-na beristirahat sambil menunggunya.
Joon ternyata sedang berada di resort. Dia mencari-cari Yoon-hee.
Dia melihat sosok Yoon-hee dan akan mendatanginya saat Yoon-hee merasa
pandangannya kabur dan buku-buku yang dibawanya berjauhan.
Joon berlari mendatangi Yoon-hee dan membantunya mengambil buku-buku.
Yoon-hee tidak menyadari bahwa Joon lah yang membantunya. Dia mengucapkan terima kasih dan berlalu pergi.
Joon menyadari bahwa ada yang aneh dengan mata Yoon-hee. Dia memandangi Yoon-hee.
Yoon-hee tersadar bahwa yang membantunya mirip dengan Joon. Dia lalu
menoleh dan setelah beberapa saat kabur, pandangannya kembali normal.
Yoon-hee kaget karena Joon mengetahui penyakitnya.
Ha-na sedang melihat-lihat tanaman di balkon saat dia mendengar suar langkah kaki menaiki tangga.
Dia mengira itu Joon. Dia membuka pintu dengan gembira, namun ternyata yang datang adalah Hye-jung.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Hye-jung dengan kaget juga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar