Joon bertanya pada Ha-na sepenting itukah kebahagiaan ibunya bagi Ha-na?
Ha-na mengiyakan. “Karena ibu selalu menempatkan kebahagiaanku di atas
kebahagiaannya. Dan aku juga merasa kasihan pada mereka, saling
mencintai tapi tidak bisa bersatu.”. Joon termenung mendengar perkataan
Ha-na. Joon kemudian menarik Ha-na agar mereka pergi dari situ. Joon
melihat ayahnya.
Ayah Joon masuk ke cafe milik Sun-ho. Jo Soo dan Sun-ho ada di sana.
Mereka kaget melihat ayah Joon yang tiba-tiba datang ke cafe mereka.
Sun-ho memberi tahu kalau Joon sedang tidak ada di cafe sekarang. Jo Soo
menimpali, “Dia keluar menemui...” Sun-ho menyikut Jo Soo agar Jo Soo
berhenti bicara. Ayah Joon memberitahu kalau di luar dia melihat Joon
dengan seorang gadis, apa gadis itu pacarnya? Si penata gaya, “Ah,
dia..”. Sun-ho langsung memotong, “Dia mungkin salah satu model Joon.
Anda ingin menunggunya?”. Sun-ho meminta ayah Joon menunggu di atas.
Joon dan Ha-na berhenti berlari. Joon memandang Ha-na lalu berkata,
“Mari kita akhiri sampai di sini saja.”. Ha-na diam saja, tidak mengerti
mengapa Joon tiba-tiba berkata seperti itu, padahal mereka baru saja
mulai pacaran. Joon diam saja tidak berkata apapun. Tiba-tiba Sun-ho
menelpon Joon mengabari ayah Joon ada di tempatnya, dan sebaiknya Joon
tidak pulang bersama Ha-na. Joon menyadari kalau Sun-ho mengetahui
semuanya. Sun-ho juga sedikit kaget mengetahui kalau Joon juga tahu.
Joon menyuruh Sun-ho datang menjemput Ha-na. Joon akhirnya pergi
meninggalkan Ha-na yang menangis tanpa berkata apa-apa.
Sun-ho datang menjemput Ha-na, dan kaget melihat Ha-na yang menangis.
Ha-na bercerita pada Sun-ho kalau Joon memutuskan hubungan mereka
berdua, dan dia tidak mengerti mengapa.
Joon datang menemui ayahnya. Joon meminta ayahnya agar tidak datang ke
tempatnya lagi. Ayah Joon berkata kalau dia tidak bisa kembali dengan
ibu Joon lagi, dan dia juga tidak bisa berpisah dengan wanita itu. Joon
yang sedang tidak enak hati membentak ayahnya, “Akhiri saja hubungan
ayah dengan ibu! Akhiri juga hubungan ayah dengan wanita itu! Atau
jangan harap ayah bisa melihat wajahku lagi.”. In-ha terdiam mendengar
pernyataan anaknya.
Ha-na ingin bertanya pada Joon apa alasan dia melakukan semua ini.
Sun-ho yang berjalan menemani Ha-na menahannya, takut kalau Ha-na
kembali dia akan bertemu dengan ayah Joon. Ha-na bersikeras untuk
kembali.
Sesampainya di cafe, Ha-na langsung naik ke atas. Tapi di atas sudah
tidak ada siapa-siapa. Joon pun tidak ada di sana. “Bagaimana bisa dia
pergi begitu saja seperti ini? Ini sudah keterlaluan.” kata Ha-na.
Joon menginap di hotel, dia merenung sendirian. Sun-ho datang
menemuinya. Joon heran bagaimana Sun-ho tahu dia di hotel?, “Aku tahu
apapun tentangmu.” kata Sun-ho. Joon bertanya lagi bagaimana Sun-ho tahu
tentang masalah itu? Sejak kapan? Sun-ho balik bertanya apa yang akan
Joon lakukan sekarang?
Bagaimana dengan Ha-na?, “Dia menangis di kamarmu saat kau pergi.” Joon
pun tidak tahu apa yang harus dia lakukan. “Apalagi yang bisa aku
lakukan di saat seperti ini? Baginya, kebahagiaan ibunya lebih penting.
Dan lihat ibuku! Jika Ha-na tahu tentang ini, bisakah dia mengatasinya?
Ayahku dan Ibunya Ha-na, kami berempat berkumpul dan membicarakannya,
lalu aku berkata kita tidak bisa berbuat apa-apa. Kau tidak perlu sedih.
Seperti itu? Cara terbaik adalah putus secepat mungkin.”. Sun-ho miris
mendengar kata-kata Joon. “Bagaimana dengan Ha-na?” tanya Sun-ho.
“Dia akan baik-baik saja. Sejak awal dia bisa hidup tanpa diriku.” jawab
Joon. “Lalu bagaimana denganmu?”tanya Sun-ho lagi. “Aku? Sejak kapan
aku percaya cinta? Aku hanya tertarik utuk sesaat. Tidak akan sulit
untukku.”kata Joon. Kelihatan sekali kalau Joon sedang berbohong. Dia
juga sakit. Joon lalu melepaskan cincin pasangannya dengan Ha-na.
In-ha datang menemui Yoon-hee. Dia berkata kalau ingin bertemu dengan
Yoon-hee. Yoon-hee mengajaknya masuk untuk minum the, tapi In-ha
menolaknya. Dia meminta Yoon-hee mengulurkan tangannya. In-ha
menggenggam sebentar tangan Yoon-hee lalu melepaskannya. “Terima kasih.”
(Maksudnya?) Yoo-hee bertanya apa ada masalah? In-ha berkata tidak, dia
hanya senang karena Yoon-hee bersamanya.
Di cafe Chang-mo ada seseorang yang mirip dengannya ketika muda sedang
menyanyi lagu rock (titisannya Chang-mo ni kayanya). “Jo Won-seok! Apa
yang kau lakukan di sini?”. Won-seok yang melihat Chang-mo langsung
memeluk pamannya (Oh, ini ponakannya Chang-mo). “Aku diusir dari rumah.
Akhirnya!”
Yoon-hee kaget melihat rumahnya diobrak-abrik. Salah satu teman Yoon-hee
berkata kalau orang pusat sedang melakukan pencarian, dan dia meminta
Yoon-hee untuk menemui pimpinan. Pimpinan resort meminta Yoon-hee untuk
mengundurkan diri. “Entah apa yang terjadi, aku pikir keputusan itu
datang langsung dari atas.”kata pimpinan. Yoon-hee keget mendengarnya.
Pimpinan bertanya padanya apa dia mempunyai masalah dengan pusat?
Yoon-hee menggeleng. Tapi sepertinya dia menyadari siapa dan apa yang
ada di balik semua itu.
Ha-na mendapat pesan dari Sun-ho, dia buru-buru datang ke tempat Sun-ho.
Sun-ho memberi tahu Ha-na kalau Joon sedang ada di studionya.
Joon sedang menyeleksi model-model asing. Joon menyuruh mereka
menunjukan pose terbaiknya. Model-model itu mulai berpose, ada juga yang
bergenit-genit ria dengan Joon. Joon melihat Ha-na masuk, Joon yang
awalnya tidak menanggapi model genit itu langsung berubah. Joon membelai
rambut si model. Semua yang melihat jadi heboh. “Lihat dia. Jika Ha-na
melihat ini...”kata Jo Soo tanpa tahu kalau Ha-na ada di belakangnya.
Joon berkata ‘break!!’. Istirahat sebentar sebelum pemotretan. Joon
mendatangi Ha-na dengan ketus dia bertanya apa yang ingin Ha-na
katakan?. “Sudah kubilang aku ingin putus. Tapi kau terus mengirim sms
dan menelpon. Kau sama saja dengan gadis-gadis lain.”
“Aku tidak berbeda degan gadis-gadis lainnya, kenapa aku harus berbeda?
Aku tidak bisa menerima, kenapa kau tiba-tiba ingin mengakhiri
segalanya? Aku hanya ingin tahu mengapa.” kata Ha-na. “Aku hanya
bermain-main denganmu. Dan aku sudah muak denganmu.” kata Joon lalu
pergi.
Ha-na yang masih tidak terima terus mengejarnya, “Bermain-main denganku?
Siapa yang mempermainkan siapa?”. Joon tidak bisa menjawab Ha-na. Joon
melampiaskan kepada Jo Soo yang berdiri di belakang Ha-na. “Apa kau
tidak mempersiapkan pemotretan?” tanya Joon. “Tidak mau.”kata Jo Soo
yang juga kesal atas tingkah Joon kepada Ha-na. Joon berlalu
meninggalkan Ha-na lagi.
Ha-na masih mengejarnya sampai ke taman. “Jawab aku, siapa yang mempermainkan siapa?”.
“Bukankah tidak nyaman kalau kita saling bertemu? Kenapa kau tidak
pindah saja dari sini? Kau juga tidak ingin bersamaku, kan? Aku rasa
tidak ada alasan bagiku untuk tidak nyaman di rumahku sendiri. Teman?
Aku tidak membutuhkannya. Jika kau butuh uang, aku akan mengirimkan cek.
Keluarlah segera setelah kau menemukan kamar baru.”kata Joon.
“Aku tidak akan pindah. Aku datang ke sini bukan karena aku pacaran
denganmu. Aku tidak akan pindah hanya karena kita putus. Aku tinggal di
sini karena aku membuat kontrak dengan Sun-ho. Jika kau mau keluar, kau
boleh pindah. Oh ya, kau sudah pindah. Seperti pengecut.” kata Ha-na
lalu pergi meninggalkan Joon.
Ha-na berjalan ke atas melewati Sun-ho, Jo Soo dan .. yang juga pusing
melihat tingkah kedua orang itu. Ha-na berhenti di tangga, lalu
menangis.
Sun-ho mendekati Joon. “Jangan bicara apa-apa.”kata Joon seolah-olah
tahu Sun-ho ingin bicara apa. “Kau uruslah dia, dan suruh dia pindah
dari sini. Sekarang aku benar-benar tidak menyukainya.” kata Joon dengan
lesu. Mi-ho yang datang pun tidak dihiraukannya. Mi-ho mendatangi
kakaknya bertanya ada apa, tapi Sun-ho juga langsung berjalan pergi.
“Ada apa ini? Kenapa aku dicuekin?”. (lucu banget ekspresi Mi-ho ini).
Joon berjalan ke atas, tapi di tangga dia melihat Ha-na yang menangis. Joon lalu pergi ke studionya.
Teman kerja Yoon-hee marah-marah karena Yoon-hee dipaksa pergi dan tidak
boleh membawa barang-barangnya. Temannya itu meminta Yoon-hee protes
dengan atasan. “Ini bukan sepenuhnya salah mereka, aku juga bersalah.”
Teman Yoon-hee bingung apa maksudnya. Yoon-hee meminta temannya itu
untuk melupakan kejadian ini. Teman Yoon-hee menawarkan agar Yoon-hee
tinggal di rumahnya saja, tapi Yoon-hee menolak.
Yoon-hee keluar dari rumah itu, tanpa dia tahu Hye-jung sudah menunggu
di luar. “Aku ingin kau keluar. Aku kira aku bisa jadi gila jika aku
tidak melakukan itu. Kau akan pergi?”tanya Hye-jung. “Tidak bisakah kau
bersimpati pada kami, Hye-jung? Aku dan In-ha sudah tidak punya apa-apa,
itu sebabnya kami tidak bisa meninggalkan masa lalu. Jadi bolehkah kami
memilikinya sekali saja? Bahkan jika kami nanti akan menyesalinya. Aku
ingin memilikinya dia sekali saja dan menyesalinya. Tidak bisakah kau
lakukan itu untuk kami?”tanya Yoon-hee. Hye-jung mulai emosi,
“Bersimpati? Untukmu? Tentu saja tidak. Karena kehidupan cinta bodohmu
itu, hidupku dan kehidupan keluargaku terikat olehnya. Aku akan lakukan
apa saja hingga kalian berdua berpisah. Aku tidak akan pernah
membiarkanmu.”.
Joon melakukan pemotretan dengan seorang model yang sepertinya sudah
dekat dengannya. Joon mengajak model itu minum bersama. “Bukankah kita
sudah berakhir?”kata model itu. “Tapi kalau minum saja tidak apa-apa,
kan?”
Sun-ho sedang berbincang dengan pasiennya, curhat lebih tepatnya.
Setelah pasien Sun-ho pergi, Mi-ho datang mendekat. “Kau yakin kau
seorang dokter? Dokter macam apa yang berkonsultasi dengan pasiennya?”.
Sun-ho beralasan kalau dia dan pasien itu sudah berteman selama
bertahun-tahun. Mi-ho meledek, itu sebabnya kakaknya tidak bisa
menghasilkan uang. Sun-ho menjawab makanya dia membuka cafe itu, jadi
dia bisa bersenang-senang dengan pasiennya tanpa perlu takut kehabisan
uang. Sun-ho melihat Ha-na yang sedang mengurusi kebun. Dia bergegas
mengambil topi untuk membantunya. “Joon bilang kita harus mengusirnya,
kan? Mereka bertengkar, kan?”tanya Mi-ho senang. Sun-ho tidak mau
menceritakan apa-apa pada Mi-ho.
Sun-ho memakaikan topi yang dia ambil di kepala Ha-na, “Pakai ini kalau
kau tidak mau wajahmu berbintik.”. Ha-na tersenyum dengan perhatian
Sun-ho. Ha-na bertanya pada Sun-ho apa dia harus pergi? Joon sekarang
membencinya, dan Ha-na tidak tahan dengan hal itu.
Mi-ho pergi ke tempat kerja kakanya, di sana dia melihat catatan Sun-ho
dan foto lama Yoon-hee. “Mereka berdua mirip sekali..”. Mi-ho lalu
membaca lagi catatan Sun-ho. Ibu, anak perempuan. Ayah, anak lelaki.
Mi-ho sadar siapa yang dimaksud di catatan itu.
Joon keluar besama teman modelnya. Mi-ho ngomel-ngomel karena perempuan
itu adalah pacar Joon yang paling lama, dan hubungannya paling dekat.
Sepertinya Joon akan serius dengan gadis itu. Mi-ho memanggil Joon
mengajaknya makan malam, Tapi Joon menolaknya dan pergi dengan si model.
Ha-na yang sedang menyiram tanaman, mengarahkan semprotran airnya ke
Joon dan si model. Dengan kesal Ha-na menyiram mereka berdua (haha, you
go, girl!). Ha-na pergi, dan Joon mengejarnya. Joon berkata lagi kalau
mereka sudah berakhir. “Tidak untukku. Aku masih menyukaimu. Jadi aku
akan terus seperti ini sampai aku membencimu. Mungkin akan butuh waktu
yang lama, jadi kau sebaiknya bersiap-siap.”kata Ha-na. Joon cuma
bengong mendengarya.
Ha-na berjalan sendiri ke taman. Di taman itu sebuah grup musik rock
sedang tampil. Ha-na duduk tidak jauh dari tempat itu. Itu bandnya
Won-seok. Ha-na mulai menangis lagi, tepat saat grup band itu
menyanyikan lagu mellow. Ha-na teringat lagi kenangan saat dia bersama
Joon. Won-seok melihat Ha-na yang sedang menangis. Sepertinya dia salah
paham, Ha-na kan menangis gara-gara putus, tapi Won-seok mengira gadis
itu menangis karena lagunya.
Setelah selesai Won-seok tidak menemukan Ha-na lagi. Dia mencarinya lalu berkata, “Mulai sekarang dia adalah belahan jiwaku.”.
Won-seok menceritakan kalau dia bertemu seorang gadis kepada pamannya.
“Kau ingin tinggal di Seoul hanya karena alasan itu?”tanya Chang-mo.
Won-seok beralasan kalau dia baru saja menemukan penggemar pertamanya.
Won-seok kemudian meminta alamat Joon, dia berkata ingin minta tolong
pada Joon untuk membuatkan cover album miliknya. Mereka sepertinya juga
berteman, Joon, Sun-ho, Mi-ho dan Won-seok.
Joon makan dengan si model. Model itu bertanya pada Joon gadis mana yang
ingin Joon pamerkan? Gadis yang menyemprot air?. “Kau seperti orang
lain saat kau jatuh cinta.”katanya. Joon menyangkal kalau dia sedang
jatuh cinta. Joon minum-minum dengan model itu.
In-ha telfon-telfonan dengan Yoon-hee. Yoon-hee menyuruh In-ha jangan
datang ke rumahnya. In-ha kemudian meminta Yoon-hee mengirimkan fotonya,
“Aku merindukanmu.”. Yoon-hee mengirimkan fotonya, In-ha senang sekali.
Yoon-hee sedang mencari motel untuk dia menginap.
Ha-na yang sudah setengah tidur mendengar suara berisik Joon yang pulang
dengan keadaan mabuk. “Kau lagi?”kata Joon. Joon lalu memeluk Ha-na
lalu menangis. Ha-na juga memeluk Joon dan bertanya ada apa. “Aku
benar-benar tidak merasakan apa-apa.”kata Joon. Ha-na sedih
mendengarnya lalu gantian memeluk Joon. Sambil menangis dia berkata,
“Kau benar-benar tidak merasakan apa-apa? Kau benar-benar hanya
mempermainkanku?”. Joon menyuruh Ha-na untuk berhenti bertingkah seperti
itu, atau dia akan melakukan hal yang lebih buruk. Joon lalu melepaskan
pelukan Ha-na. “Aku mengerti.”kata Ha-na. Ha-na akan pergi tapi Joon
dengan tangannya menghalanginya. Dengan berat hati dia menurunkan
tangannya.
Keesokan paginya Ha-na memasak banyak makanan. Ha-na mondar-mandir
melewati Joon tapi tidak menghiraukannya. Asisten-asisten Joon juga
melakukan hal yang sama karena tidak suka dengan kelakuan Joon ke Ha-na.
Sun-ho mendatangi Joon yang sedang membaca di taman, dia menyuruh Joon
makan sup ikan yang sudah dibuatkan Ha-na. Joon memberitahu Sun-ho bahwa
semalam mereka berdua resmi putus, dan Ha-na menyetujuinya. “Tentu
saja. Setelah semua yang kau lakukan, itu pasti terjadi.” Ha-na datang
di antara mereka, mengabarkan bahwa dia akan pindah di minggu
berikutnya, dan masalah taman dia akan melanjutkannya jika semuanya
menyetujui. Sun-ho berkata kalau Ha-na boleh melanjutkan tamannya, dan
dia juga boleh tinggal di situ. Ha-na hanya berkata, baiklah dan
kemudian berlalu.
Tae-seong yang mengenakan setelan lengkap tiba di Seoul. Dia berkata pada pegawainya akan menemui seseorang sebelum kembali.
Ha-na memandangi halaman tempat Joon sedang duduk membaca. In-sung
mendatanginya, “Kau pasti tidak bisa bekerja karena ada orang itu di
sana. Tidak bisakah dia menyingkir agar kau bisa kerja?”. Ha-na
menyakinkan kalau dia pasti akan segera pergi.
Tae-seong datang, kepada Joon dia bertanya apa Ha-na ada?. Ha-na keluar
menemui sunbae nya. Tae-seong mengajaknya keluar karena ada yang ingin
dia bicarakan. Joon kesal dengan mereka berdua.
Tae-seong mengajak Ha-na ke restoran yang mahal. Ha-na terus saja
menatap Tae-seong, menunggu penjelasan. Tae-seong berkata akan mulai
bekerja di resort pada minggu ini. Dia akan menjadi CEO baru. Ha-na
kaget mengapa sunbaenya bisa jadi CEO. “Resort dan taman adalah salah
satu bisnis keluargaku. Maaf karena tidak memberitahumu lebih awal.
“kata Tae-seong. Ha-na hanya bisa melongo. Bagaimana dia sampai tidak
tahu hal ini, apa mereka benar-benar berteman?. “Aku baru tiba dari New
York tadi pagi. Tunanganku sedang kuliah di sana. Aku sudah putus
dengannya.”. Tae-seong berkata dia tidak punya perasaan apa-apa terhadap
gadis itu. Tae-seong berkata dia ingin Ha-na menerimanya.
Joon melakukan sesi fotonya, dia dipuji oleh kliennya karena
kemampuannya dengan fotografi. “Kalau saja aku secerdas kau, aku rasa
hidupku akan lebih menyenangkan.”kata si klien. “Hidupku membosankan.
Dan akan lebih membosankan lagi mulai sekarang.” jawab Joon.
Joon tiba di rumah berbarengan dengan Ha-na dan Tae-seong. Joon tidak suka melihatnya.
Saat masuk ke dalam rumah, Joon melihat kliennya yang dulu kekeuh minta
Ha-na sebagai model. Joon kesel karena dia datang tanpa membuat janji.
“Aku di sini bukan untuk bertemu anda, tuan Seo. Aku mendengar Jung
Ha-na ada di sini.”. Tepat saat itu Ha-na masuk ke rumah. Akhirnya
mengobrollah mereka. Klien Joon meminta mereka melakukan sesi foto lagi.
Kali ini si klien meminta tema ‘Aprodite’ yang diambil di pantai. Joon
langsung menolaknya. Tapi Ha-na malah menerimanya.
“Kau mau melakukannya lagi? Menjadi modelku lagi?”tanya Joon. Ha-na
mengangguk. Joon bertanya apa alasan Ha-na. Ha-na bercerita kalau tadi
Tae-seong mengajaknya berkencan, tapi yang dia pikirkan hanya Joon. Joon
menanggapinya ketus, “Tidak butuh waktu lama bagimu untuk beralih dari
dia ke aku. Tidak akan sulit untuk beralih dari ku dan kembali padanya
lagi.”. Ha-na ingin membalas kata-kata Joon.
Dengan sedih Ha-na mengecat papan yang akan dia gunakan di tamannya.
Ha-na melakukan itu sampai dia tertidur. Sun-ho yang melihatnya akan
menyelimuti Ha-na dengan jaketnya. Joon datang dan menyuruh Sun-ho
meninggalkan Ha-na. Setelah Sun-ho pergi, Joon membopong Ha-na ke
kamarnya. Joon tidak langsung meninggalkan Ha-na. Dengan lembut dia
membelai rambut Ha-na. Air mata Joon menetes. Dia akhirnya pergi. Ha-na
ternyata belum tidur, dia membuka matanya saat Joon pergi.
Persiapan sudah dilakukan di pantai untuk pemotretan Ha-na. Ha-na cantik
sekali dengan rambut lurusnya. Joon datang tanpa mempeduikan Ha-na.
Joon mulai memoto. Ha-na meminta arahan Joon seperti sebelumnya, dia
mencoba ngobrol dengan Joon. Tapi Joon sama sekali tidak menghiraukan
Ha-na. Ha-na benar-benar stres karena dicuekin Joon. Joon marah-marah
karena pose Ha-na yangberantakan. “Kenapa posemu kacau hari ini? Apa kau
sedang bercanda? Apa kau sebodoh itu? Sebelum kau ngotot ingin
melakukannya, kau harus yakin dulu kau bisa melakukannya.”. semua orang
kaget dengan bentakan Joon.
In-ha datang menemui Yoon-hee di resort. Mereka berjalan-jalan berdua
sambil bergandengan tangan. Yoon-hee berkata pada In-ha kalau dia akan
pindah kerja. In-ha hanya diam dalam pertanyaan. Dia lalu menemui teman
Yoon-hee.
In-ha datang ke motel tempat Yoon-hee menginap. Yoon-hee kaget melihat
In-ha. In-ha berkata kalau dia sudah tahu kalau itu adalah kerjaan
ibunya Joon. In-ha menawarkan rumahnya untuk ditinggali , dan dia akan
tidur di kantor. Yoon-hee tentu saja menolaknya.
In-ha mengajak Yoon-hee ke suatu tempat. Mereka berdua pergi dengan bis.
Tim foto juga akan pulang, tapi Ha-na berkata akan tinggal di situ untuk
satu malam. Jo Soo mengajak Ha-na pulang. Joon masih kesal dan menyuruh
mereka segera bersiap untuk pulang. Ha-na mendatangi Joon. “Ketika kau
bersikap jahat, itu artinya kau sedang berbohong. Jadi aku tidak percaya
akan berakhir seperti ini. Bisakah kau tinggal bersamaku?”pinta Ha-na.
Dengan ketus Joon menjawab tidak mau. Akhirnya Joon dan semua kru nya
pergi meninggalkan Ha-na.
Hanya jalan beberapa meter, Joon menyuruh Jo Soo menghentikan mobilnya,
dan dia turun menyusul Ha-na yang duduk di pinggir jalan. “Kau mau apa
sekarang?” tanya Joon. “Mobilnya sudah pergi, jadi kau harus tinggal
bersamaku hingga besok. Itu sudah cukup.”jawab Ha-na. Joon marah, apanya
yang cukup?
Tepat di seberang jalan tempat Ha-na dan Joon berdiri, In-ha dann
Yoon-hee turun dari bis. Mereka berempat berseberang-seberangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar