Rencana Analisis Data
Peneliti
membuat suatu penelitian dengan satu tujuan pokok yaitu menjawab
pertanyaan-pertanyaan penelitian untuk mengungkap fenomena sosial atau alam
tertentu, untuk mencapai tujuan tersebut peneliti merumuskan hipotesis,
mengumpulkan data, memproses data, membuat analisis dan interpretasi.
Analisis
data adalah proses penyederhanaan data kedalam bentuk yang lebih mudah dibaca
dan diinterpretasikan. Dalam proses ini sering kali digunakan statistic. Salah
satu fungsi pokok statistic adalah menyederhanakan data penelitian yang amat
besar jumlahnya menjadi informasi yang lebih sederhana dan lebih mudah untuk
dipahami. Disamping itu statistic membandingkan angka yang diperoleh dengan
hasil yang terjadi secara kebetulan, sehingga memungkinkan peneliti untuk
menguji apakah hubungan yang diamati memang betul terjadi karena adanya
hubungan yang sistematik antara variabel-variabel yang diteliti atau hanya
terjadi secara kebetulan.
Kegiatan
dalam analisis data adalah mengelompokkan data berdasarkan variabel dan jenis
responden, mentabulasi data berdasarkan variabel dari seluruh responden,
menyajikan data tiap variabel yang diteliti, melakukan perhitungan untuk
menjawab rumusan masalah, dan melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis
yang telah diajukan. Untuk penelitian yang tidak merumuskan hipotesis langkah
terakhir tidak dilakukan.
Tahapan Pengolahan Data
- Editing
Kegiatan dalam editing adalah kegiatan memeriksa data mentah
yang masuk, apakah terdapat kekeliruan dalam pengiriman, apakah tidak lengkap
pengisiannya, palsu dan sebagainya.
Kegiatan editing dapat dilakukan di kantor pusat atau
dilapangan. Dengan demikian, harapannya adalah data yang diperoleh tersebut
valid dan reliabel serta dapat dipertanggungjawabkan.
Hal-hal
yang perlu diperiksa adalah sebagai berikut:
1. Dipenuhi tidaknya instruksi sampling.
Apakah responden yang diwawancarai sesuai dengan syarat-syarat dan
ketentuan yang telah ditetapkan.
2. Dapat dibaca atau tidaknya data mentah.
Bila ada tuliasan yang tidak jelas harus dikembalikan kepada pewawancara
untuk mengetahui kebenaran dari tulisan tersebut.
3. Kelengkapan Pengisisan.
Perlu ditunjukkan kepada pewawancara bila ada bagian yang kososng/tidak
diisi.
4. Keserasian (Konsistensi).
Adalah hal-hal yang saling bertentangan.
Misalnya: ada pertanyaan yang menanyakan apakah anda
sudah menikah?, dijawab belum, namun pada pertanyaan berikutnya ada jawaban
sudah punya anak tiga.
5. Apakah isi jawaban bisa dipahami
Bila ada jawaban yang panjang, kemudian disingkat oleh pewawancara dan
singkatan tersebut susah dipahami.
- Coding
Coding adalah pemberian tanda/symbol/kode bagi tiap-tiap data
yang termasuk dalam kategori yang sama. Tanda dapat berupa angka/huruf. Tujuan
daripada coding adalah mengklasifikasikan jawaban kedalam kategori-kategori
yang penting.
Ada
dua langkah penting dalam melakukan coding yaitu sebagai berikut:
1.
Menentukan kategori-kategori yang akan digunakan.
2.
Mengalokasikan jawaban individual pada
kategori-kategori tersebut.
Kumpulan dari kategori-kategori ini disebut dengan “coding frame”. Pada pertanyaan tertutup
biasanya coding frame sudah dilengkapi namun pada pertanyaan terbuka sukar
untuk merencanakan coding frame yang
bersangkutan, mengkonstruksi coding frame hendaknya dilakukan oleh seseorang
yang benar-benar mengetahui tujuan penelitian dan mengetahui bagaimana hasil
penelitian akan digunakan. Coding frame ini
perlu dites terlebih dahulu oleh petugas coding. Hal ini dilakukan, selain
untuk melatih petugas coding, juga untuk membuka kemungkinan terciptanya coding
frame yang lebih baik.
Alokasi jawaban pada kategori-kategori didalam coding frame
dapat dilakukan oleh responden, petugas wawancara dan oleh petugas coding, yang
dapat dilakukan oleh responden atau petugas wawancara hanya terbatas pada tipe
pertanyaan tertutup saja. Dalam tipe pertanyaan terbuka harus dilakukan
sepenuhnya oleh petugas coding sesuai dengan instrument coding yang benar-benar
spesifik. Mengkode adalah menaruh angka pada tiap jawaban. Untuk dapat
memberikan kode pada jawaban tersebut perlu diperhatikan yaitu:
1. Kode dan Jenis Pertanyaan
Dalam hal ini perlu diperhatikan jenis pertanyaan, jawaban atau
pertanyaan yang dapat dibedakan. Jawaban yang berupa angka, jawaban dari
pertanyaan tertutup, jawaban pertanyaan semi terbuka, jawaban pertanyaan
terbuka dan jawaban pertanyaan kombinasi.
-
Bila jawaban berupa angka maka kode yang digunakan
adalah angka itu sendiri.
-
Bila jawaban untuk pertanyaan tertutup jawabannya sudah
disediakan terlebih dahulu dan responden hanya mengecek jawaban tersebut sesuai
dengan instruksi. Responden tidak boleh menjawab diluar yang telah ditetapkan.
-
Bila jawaban pertanyaan semi terbuka, selain dari
jawaban yang telah ditentukan maka jawaban lain yang dianggap cocok oleh
responden masih diperkenankan untuk dijawab. Jawaban tambahan tersebut perlu
diberi kode tersendiri.
-
Bila jawaban pertanyaan terbuka, jawaban yang diberikan
sifatnya bebas. Untuk memberi kode, jawaban-jawaban tersebut harus
dikatagorikanlebih dahulu atau dikelompokkan sehingga tiap kelompok berisi
jawaban yang sejenis. Kalau masih ada jawaban yang tidak bisa masuk ke kelompok
tersebut, dapat dibuatkan katagori-katagori lain-lain, namun tidak boleh
terlalu banyak dan juga perlu diingat jawaban pertanyaan tidak boleh tumpang
tindih.
-
Bila jawaban kombinasi, hampir serupa dan jawaban pertanyaan
tertutup. Selain ada jawaban yang jelas, responden masih dapat menjawab
kombinasi dari beberapa jawaban.
2. Tempat Kode
Kode dapat dibuat pada kartu tabulasi ataupun daftar pertanyaan itu sendiri.
Jika data diolah dengan komputer, kode-kode harus dibuat dalam coding sheet.
- Tabulasi
Data yang dikumpulkan setelah melewati proses editing dan
coding, langkah selanjutnya adalah disusun dalam bentuk tabel. Jawaban yang
serupa dikelompokkan dengan cara yang diteliti dan teratur, kemudian dihitung
dan dijumlahkan beberapa banyak peristiwa/gejala/item yang termasuk dalam satu
kategori. Kegiatan ini dilakukan sampai terwujud tabel-tabel yang berguna,
terutama penting pada data kuantitatif. Dalam tabulasi, angka-angka akan
dimasukkan dalam satu tabel yang terdiri atas kolom-kolom maka ada baiknya bila
susunan kolom disusun berdasarkan urutan-urutan susunan logis dan tiap-tiap
kepala kolom diberi keterangan yang menyatakan isi kolom yang bersangkutan.
Dengan demikian dapat dilakukan pencarian hubungan-hubungan yang berarti antara
jawaban yang satu dengan jawaban lainnya, hanya dengan melihat kepada kolom
tersebut.
Pengaturan data dapat bermacam-macam seperti pengaturan
menurut banyaknya peristiwa yang terjadi/ jumlah jawaban yang sama (tabel
frekuensi), menurut kelompok atau kelasnya (tabel klasifikasi) atau secara
korelatif ( tabel korelasi). Jika setelah dibuat distribusi frekuensi ada kode
variabel yang tidak cocok, harus dilakukan pembersihan data. Setelah itu baru
dilanjutkan kedalam analisis berikutnya.
Tabel
juga dapat dibedakan menjadi beberapa jenis yaitu:
1. Tabel Induk tabel teks, dan tabel
frekuensi.
Tabel induk adalah tabel yang berisi semua data yang tersedia secara
terperinci untuk melihat kategori data secara keseluruhan.
2. Tabel Teks
Tabel teks adalah tabel diringkas sesuai dengan keperluan. Tabel ini
biasanya dibuat langsung dalam teks dan digunakan saat membuat penafsiran.
3. Tabel Frekuensi
Tabel frekuensi ini sering digunakan untuk mengecek kesesuaian hubungan
jawaban antara satu pertanyaan dengan pertanyaan lain dalam daftar pertanyaan.
Contoh:
Tabel 1.1
|
|||
Keadaan Tempat Tinggal Mahasiswa
|
|||
FE Unud (100) responden
|
|||
No.
|
Keterangan
|
Banyak (Jumlah)
|
Persentase (%)
|
1
|
Tempat Tinggal
|
|
|
|
a. Ikut Orang Tua
|
45
|
45
|
|
b. Ikut Keluarga
|
10
|
10
|
|
c. Indekos
|
20
|
20
|
|
d. Sewa Kamar dan Masuk Sendiri
|
25
|
25
|
|
|
|
|
2
|
Situasi Rumah
|
|
|
|
a. Baik
|
60
|
60
|
|
b. Cukup
|
30
|
30
|
|
c. Kurang
|
10
|
10
|
|
|
|
|
3
|
Penerangan Bentuk Belajar
|
|
|
|
a. Listrik
|
90
|
90
|
|
b. Lampu Pompa
|
5
|
5
|
|
c. lampu Minyak
|
5
|
5
|
Contoh:
Tabel 1.2
|
||
Pemilikan Pesawat TV Menurut Lebar Layar
|
||
Uraian Layar (Inches)
|
Jumlah (Orang)
|
Persentase (%)
|
12 atau kurang
|
55
|
22
|
14
|
60
|
24
|
17
|
45
|
18
|
20
|
70
|
28
|
24 atau lebih
|
20
|
8
|
Jumlah
|
250
|
100
|
Penyajian Data
Data
setelah dikumpulkan dapat disajikan dengan menggunakan tabel frekuensi baik
frekuensi tunggal maupun tabulasi silang. Tabel tentang kepemilikan pesawat tv
pada pembahasan sebelumnya adalah contoh distribusi tunggal. Selain dalam
bentuk tabel data juga dapat disajikan dalam bentuk gambar/grafik. Contoh:
Histogram, Poligon, dan lain-lain.
Dalam
tabulasi silang, setiap kesatuan data dipecah lebih lanjut menjadi dua/tiga.
Setiap penambahan variabel baru kedalam tabulasi silang akan memberikan
keterangan lebih baik terhadap data yang diolah, tetapi pengolahan akan lebih
sukar (complicated).
Contoh:
Tabel 1.3
|
||||
Tabulasi Silang (Cross Tabulation)
|
||||
Hasil Penilaian mahasiswa Berdasarkan Semester Terhadap
Kebersihan
|
||||
Lingkungan Kampus
|
||||
Penilaian
|
Semester
|
Jumlah
|
||
I-III
|
IV-VII
|
>VIII
|
||
Bersih
|
100
|
120
|
80
|
300
|
Cukup
|
60
|
40
|
20
|
120
|
Kotor
|
25
|
15
|
10
|
50
|
Tidak Menjawab
|
15
|
7
|
8
|
30
|
Jumlah
|
200
|
182
|
118
|
500
|
Grafik
merupakan sebuah garis yang menunjukkan suatu tingkatan atau naik dan turunnya
sebuah data. Grafik juga disebut sebagai diagram, jenis
diagram terbagi menjadi tiga macam antara lain :
- Diagram Garis
Diagram garis merupakan sebuah diagram yang menunjukkan data
dalam bentuk garis.
- Diagram Batang
Diagram batang
merupakan sebuah diagram yang menunjukkan data dalam bentuk segi
empat. Diagram batang juga disebut histogram.
- Diagram Lingkaran
Diagram lingkaran
merupakan Sebuah diagram yang menunjukkan data dalam bentuk lingkaran
360derajat.
Contoh
grafik/diagram garis:
Pemilikan Pesawat TV Menurut
Lebar Layar

Contoh grafik/diagram batang:
Pemilikan Pesawat TV Menurut Lebar Layar

Contoh
grafik/diagram lingkaran:
Pemilikan Pesawat TV Menurut Lebar Layar

Tidak ada komentar:
Posting Komentar